Layar ponsel Han Xing berkedip, menampilkan notifikasi 'Sedang Mengetik...' tanpa akhir. Di baliknya, bayangan gedung pencakar langit memanjang, mencakar langit malam Shanghai yang sintetis. Ia menghela napas, aroma kopi instan murahan memenuhi apartemen minimalisnya. Di tahun 2077 ini, koneksi cinta serumit mencari sinyal di gurun pasir.
Di belahan dimensi yang lain, di sebuah taman kekaisaran yang diterangi lentera kertas, Kaisar Li Wei menunggu. Angin malam bermain-main dengan jubah naga keemasannya, menyisakan aroma dupa cendana dan kesepian yang menggigit. Ia menatap danau, bayangannya memantul bagai lukisan yang luntur dimakan waktu.
Mereka terhubung lewat retakan dalam realitas, sebuah anomali temporal yang muncul setiap purnama biru. Han Xing bisa merasakan kehadirannya dalam getaran statis di telinganya, dalam lagu-lagu melankolis yang tiba-tiba terputar di playlist algoritmiknya. Li Wei merasakan sentuhan Han Xing dalam hembusan angin yang membawa aroma kopi pahit, dalam bisikan kata-kata aneh yang terukir di batu-batu taman kekaisarannya.
"Siapa kau?" Han Xing mengetikkan pesan itu, jemarinya gemetar di atas layar sentuh. Pesan itu tak pernah terkirim, hanya berputar-putar dalam limbo digital.
Li Wei, di sisi lain, membisikkannya ke dalam angin, "Namamu, siapa namamu, penghuni masa depan?"
Cinta mereka tumbuh seperti lumut di tembok tua, merambat di atas koneksi yang rapuh. Mereka berbagi cerita, mimpi, dan ketakutan, meskipun terpisah oleh abad dan teknologi. Han Xing menceritakan tentang dunia yang kelebihan informasi, tentang kesepian yang dipelihara algoritma, tentang langit yang jarang terlihat bintang. Li Wei menceritakan tentang intrik istana, tentang beban takhta, tentang harapan yang terkubur di balik ritual dan tradisi.
Namun, cinta mereka terikat pada kenyataan bahwa dimensi mereka semakin menjauh. Sinyal semakin melemah, chat semakin jarang, purnama biru semakin redup.
Suatu malam, Han Xing menemukan artefak aneh di pasar loak virtual sebuah medali perunggu dengan ukiran naga yang familiar. Saat menyentuhnya, ia merasakan tarikan, sebuah getaran yang kuat, seolah ia akan ditarik melewati celah waktu.
Pada saat yang sama, Li Wei menemukan lukisan digital aneh di antara gulungan-gulungan kuno di perpustakaan kekaisaran potret seorang wanita dengan rambut pendek dan mata yang penuh dengan kesedihan yang familiar. Saat menyentuh layar, ia merasakan dorongan, sebuah paksaan yang kuat, seolah ia akan didorong ke dalam dunia yang tak dikenalnya.
Mereka bertemu di titik tengah, di retakan itu sendiri. Tapi yang mereka temukan bukanlah pertemuan yang romantis, melainkan kebenaran yang mengerikan.
Mereka bukanlah orang asing yang saling jatuh cinta lintas waktu. Mereka adalah reinkarnasi dari dua jiwa yang pernah bertemu di masa lalu, di era yang sama. Han Xing dulunya adalah selir Kaisar Li Wei, seorang seniman yang terasingkan, yang bunuh diri karena cinta yang tak terbalas. Li Wei, sang kaisar, tak pernah bisa melupakannya. Setiap kehidupan, mereka terus mencari satu sama lain, terikat oleh karma yang belum selesai, oleh cinta yang abadi, tapi selalu gagal.
Di saat terakhir, sebelum retakan itu menutup selamanya, Han Xing berteriak, "Mungkin…mungkin di kehidupan selanjutnya kita bisa…bertemu dengan cara yang benar…"
You Might Also Like: Distributor Skincare Jualan Online
Post a Comment