Dracin Terbaru: Bayangan Yang Meninggalkan Aroma Racun

Bayangan yang Meninggalkan Aroma Racun

Langit kota Chang'an berbisik senja. Di antara atap-atap istana yang berukir naga dan phoenix, berdirilah Lian, seorang wanita yang menyimpan badai di balik senyumnya yang tipis. Dulu, ia adalah putri kesayangan, pemilik hati seorang pangeran. Sekarang, ia hanyalah bayangan, aroma wisteria yang menghantui taman-taman kekaisaran.

Dulu, cintanya adalah matahari – hangat, menyilaukan, membakar. Pangeran Li Wei, dengan janji-janji abadi dan mata yang hanya melihat dirinya. Namun, kekuasaan adalah racun. Janji itu hancur ketika tahta menjadi perebutan berdarah, dan Lian, yang lugu, dikorbankan sebagai pion. Diasingkan, dicemooh, ditinggalkan untuk mati di padang pasir yang ganas.

Bertahun-tahun berlalu, menempa baja di hatinya. Padang pasir bukan kuburan, melainkan rahim yang melahirkan kembali dirinya. Lian belajar bertahan, belajar membaca arah angin, belajar menyembunyikan luka di balik jubah sutra. Ia kembali ke Chang'an, bukan sebagai putri yang memohon belas kasihan, melainkan sebagai pedagang dari negeri asing.

Perubahannya mencengangkan. Kelembutan masa lalunya masih ada, terlihat dari cara ia merawat bunga-bunga teratai di pekarangan rumahnya. Namun, di baliknya, tersembunyi kekuatan yang mengerikan. Setiap langkahnya terukur, setiap kata yang diucapkannya adalah intrik yang mematikan. Ia mengumpulkan sekutu, menjalin jaringan rahasia, dan memainkan bidak-bidak di papan catur kekaisaran.

Li Wei, kini Kaisar, tidak mengenalinya. Ia melihat seorang wanita cantik, cerdas, dan berkuasa, namun tidak melihat masa lalu yang menghantuinya. Lian menggunakan ini untuk keuntungannya. Ia mendekati Li Wei, memikatnya dengan kecantikan dan kebijaksanaan yang membuatnya terpukau. Ia menjadi penasihatnya, kepercayaannya, dan secara perlahan, menanamkan benih keraguan dan ketidakpercayaan di antara para menterinya.

Balas dendam Lian tidak berteriak. Ia tidak mengamuk atau menumpahkan darah. Ia merencanakan dengan sabar, dengan TENANG yang lebih menakutkan daripada amarah. Ia meruntuhkan kerajaannya dari dalam, satu benang demi satu benang. Ia menghancurkan reputasinya, mengasingkan sekutunya, dan pada akhirnya, memaksanya untuk menghadapi akibat dari pengkhianatannya.

Di malam jatuhnya Kaisar Li Wei, Lian berdiri di balkon istana, angin dingin menerpa wajahnya. Di bawah sana, Chang'an bersinar dengan lentera, namun hatinya terasa sepi. Ia telah mendapatkan balas dendamnya, namun kemenangan itu terasa hambar.

Ia menatap bulan, sebulat koin perak, dan berbisik, "Sekarang... akulah kaisar dari takdirku sendiri."

You Might Also Like: Tips Sunscreen Lokal Dengan Formula

OlderNewest

Post a Comment