Bikin Penasaran: Cinta Yang Kuterjemahkan Dalam Luka

## Cinta yang Kuterjemahkan Dalam Luka Hujan abu mengepung kota seperti tirai kelabu yang tak berkesudahan. Di tengah hiruk pikuk lalu lintas yang memekakkan telinga, aku berdiri, memandang sosoknya dari kejauhan. Jiang Wei. Lima tahun. Lima tahun sejak janji itu terucap di bawah pohon sakura yang mekar sempurna. *Lima tahun sejak ia menghilang*. Dulu, kami adalah sepasang burung camar yang terbang bebas di angkasa, saling mengejar ombak dan berteriak tentang masa depan yang terlukis indah. Ia berjanji akan kembali, akan membangun rumah kecil di tepi danau, dan kami akan menua bersama, tertawa bersama pahit manisnya kehidupan. Ia berjanji. Tapi janji hanyalah kata-kata. Dan kata-kata, seperti daun kering, mudah diterbangkan angin. Kini, ia berdiri di sana, gagah dalam balutan jas mahal, menggandeng wanita cantik yang tersenyum padanya. Wanita itu, seperti diriku dulu, menatapnya dengan mata penuh cinta. Cinta yang bodoh. Cinta yang membutakan. Jantungku mencelos. Rasa sakit itu menikam lebih dalam daripada pisau yang diasah semalaman. Rasa sakit yang telah kubalut dengan kesabaran dan kerja keras selama lima tahun terakhir. Rasa sakit yang telah menguatkanku, membentukku menjadi diriku yang sekarang. Ia tidak mengenaliku. Atau mungkin, ia pura-pura tidak mengenali. Aku ingat janjinya, terngiang jelas di telingaku. *"Aku akan kembali, Xiao Mei. Tunggu aku."* Ia bahkan menggenggam tanganku erat, seolah tak ingin melepaskannya. Bohong. Semuanya bohong! Kini, aku adalah direktur utama perusahaan teknologi yang sedang naik daun, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan *kecerdasan buatan*. Ironisnya, aku menggunakan teknologi itu untuk memantau, menganalisis, dan memahami setiap gerak-geriknya. Aku belajar tentang perusahaan miliknya, keluarganya, bahkan kebiasaan buruknya yang dulu sering kukritik. Balas dendam? Bukan. Aku tidak serendah itu. Aku hanya ingin memastikan ia merasakan apa yang kurasakan. Kehilangan. Kebingungan. *Kepedihan*. Proyek terbaruku, sebuah algoritma canggih yang mampu memprediksi fluktuasi pasar saham, akan diluncurkan minggu depan. Algoritma itu akan kubiarkan "kebocoran" ke kompetitornya. Dan aku tahu betul, *persaingan di dunia bisnis bisa lebih kejam dari perang sekalipun*. Ia mungkin tidak akan tahu bahwa akulah dalang di balik semua ini. Ia mungkin akan mengira ini hanya nasib buruk, karma yang datang terlambat. Tapi aku tahu, *takdir selalu punya cara unik untuk menuntut keadilan*. Aku berbalik, berjalan menjauh dari kerumunan. Hujan abu semakin deras. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa dingin menusuk tulang. Cinta yang hancur adalah kode rahasia yang kini kutulis ulang dalam bahasa dendam, dan aku bertanya-tanya, siapakah yang akan lebih dulu terluka, cinta yang dulu atau dendam yang baru lahir?
You Might Also Like: 106 Cara Skincare Lokal Dengan

Post a Comment