**Ia Membiarkan Aku Di Draft, Karena Tak Siap Kehilangan** Malam itu membentang seperti kain beludru hitam yang koyak, menampakkan luka menganga bernama kesunyian. Salju turun tanpa ampun, mewarnai kota **TIANJIN** dengan lapisan putih kematian. Di tengah badai yang mengamuk, aroma dupa cendana menyengat, berpadu getir dengan bau darah yang membeku. Aku, Lin Mei, berdiri di ambang pintu kuil tua, menatap punggungnya. Jiang Wei. Pria yang membiarkanku hidup dalam *draft* kehidupannya, sebuah catatan yang tak pernah ia berani publikasikan. Matanya, sekelam jurang terdalam, menatap arca Buddha yang hancur. "Kau tahu, Mei," suaranya serak, bagai gesekan batu nisan. "Dulu aku percaya ini akan membawa kedamaian. Ternyata, justru kutukan." Kami terikat benang merah tak kasat mata, benang yang ditenun dari cinta dan kebencian, dari janji yang terucap di atas abu leluhurnya. Dulu, di bawah pohon sakura yang mekar sempurna, kami bersumpah sehidup semati. Namun, rahasia keluarga menggerogoti kami, seperti rayap yang mengoyak fondasi rumah tangga. Darah di salju adalah saksi bisu. Darah ayahnya, darah ibuku. Pembantaian yang disembunyikan rapat-rapat selama bertahun-tahun, terbongkar di malam penuh kutukan ini. Ternyata, dendam keluarga kamilah yang menjadi tembok penghalang, bukan ketidaksiapannya untuk kehilangan. Ia memilih melindungi keluarganya, *KELUARGA YANG MEMBUNUH ORANG TUA KAMI*. "Kau tahu, Mei," lanjutnya, tanpa menoleh. "Aku tidak pernah mencintaimu." Kata-kata itu bagai pisau es yang menusuk jantungku. Kebohongan yang terucap dengan begitu mudah, menyiramkan bensin ke bara api dendam yang telah lama kupendam. Air mata mengalir di pipiku, membeku sebelum sempat jatuh ke tanah. Air mata yang tercampur aroma dupa, menciptakan aroma kepedihan yang tak tertahankan. Aku tersenyum tipis, senyum seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, kecuali *HARAPAN UNTUK BALAS DENDAM*. "Begitukah, Jiang Wei? Kalau begitu, kau tidak akan keberatan jika aku mengakhiri *draft* ini." Kupastikan racun itu mengalir deras dalam cangkir tehnya. Racun yang tak terdeteksi, racun yang perlahan akan membawanya ke alam baka. Ia meneguknya tanpa curiga, menatapku dengan tatapan kosong. "Mei... mengapa?" bisiknya, sebelum roboh ke tanah. Aku berlutut di sampingnya, mengusap rambutnya yang berantakan. "Karena kau membiarkanku di *draft*, Jiang Wei. Karena kau tidak siap kehilangan. Sekarang, kau akan kehilangan segalanya." Balas dendam ini tenang, sunyi, namun mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu, terlalu lama terluka. Aku berdiri, meninggalkan tubuhnya yang membeku di kuil tua itu. Salju terus turun, menutupi jejakku, menutupi dosaku. **Kini, kutukannya telah pindah ke diriku.**
You Might Also Like: Unveiling Vocal Nature Of Black Cats
Post a Comment