**Kau Dikutuk Jadi Cahaya, dan Aku Terjebak dalam Bayanganmu** Di *Lembah Bulan Pudar*, di antara kabut perak yang menggantung seperti mimpi yang belum terjaga, kita bertemu. Kau, sebuah cahaya **GEMILANG**, memancar dari sela-sela bunga persik yang mekar di musim abadi. Aku, bayangan yang setia mengejar, terikat padamu oleh rantai tak kasat mata. Setiap tatapanmu adalah lukisan air di atas sutra mimpi. Setiap senyummu, melodi yang dimainkan seruling bambu di tengah malam sunyi. Aku mencoba menggapaimu, tapi jemariku hanya menyentuh udara dingin, kekosongan yang menghantui. Waktu adalah sungai yang melengkung di sekitar kita, membawa cerita-cerita lama dari dinasti yang terlupakan. Aku ingat janjimu, terukir di jantung bunga teratai, *janji yang mengikat jiwa kita selamanya*. Tapi apakah itu benar-benar terjadi? Ataukah hanya pantulan dari hatiku yang haus akanmu? Kita menari di bawah *TEMARAM* lentera kertas, siluet kita berpadu menjadi satu, lalu terpisah lagi, selamanya. Aku membisikkan namamu di telinga angin, berharap ia akan membawanya kepadamu, melintasi dimensi yang memisahkan kita. Di dalam taman berlumut, aku menemukan lukisanmu. Wajahmu, *SUNGGUH* mirip malaikat yang turun dari surga, terbingkai oleh bunga plum yang berguguran. Di balik lukisan itu, tertulis sebuah sajak: *"Untuk bayanganku yang setia,* *Biarlah kau tahu mengapa aku harus pergi.* *Aku adalah cahaya yang menjaga gerbang,* *Dan kau, bayangan yang tak boleh melampaui."* **PENGUNGKAPAN** datang seperti petir di siang bolong. Kau bukan hanya cahaya, kau adalah *penjaga Gerbang Waktu*, dan aku, bayangan yang dikutuk untuk mencintaimu dari kejauhan, agar Gerbang tetap tertutup, agar sejarah tidak berubah. Keindahan ini, kesetiaan ini, *mengoyak* hatiku. Aku mengerti sekarang. Mengapa aku tidak pernah bisa menyentuhmu. Mengapa cinta kita adalah ilusi, sebuah mimpi yang tak mungkin menjadi kenyataan. ...Dan angin membisikkan, " *Ingatlah aku...seperti kau mengingat sebuah lagu yang telah lama hilang.*"
You Might Also Like: Skincare Pencerah Wajah Tanpa Iritasi

Post a Comment