**Air Mata yang Menetes di Balik Tirai Putih** Tirai putih itu berkibar lembut, menari mengikuti irama angin sore yang berhembus dari danau. Di baliknya, Li Wei berdiri membeku, matanya terpaku pada siluet punggung seorang pria di kejauhan. Punggung itu…punggung yang dulu begitu dikenalnya, punggung yang dulu selalu menjadi sandaran di kala ia rapuh. Punggung milik Zhang He. Lima tahun. Lima tahun berlalu sejak janji itu diucapkan di bawah pohon *persik yang sedang mekar*—janji untuk selalu bersama, janji untuk membangun rumah di tepi danau, janji untuk menua bersama. Lima tahun pula sejak janji itu dikhianati, hancur berkeping-keping bagai kaca yang terhempas ke batu. Zhang He menikahi putri keluarga Ma, demi menyelamatkan perusahaan keluarganya dari kebangkrutan. Sebuah pengorbanan *mulia*, begitulah kata orang-orang. Li Wei tahu itu adalah kebohongan. Cinta seharusnya *tidak* dikorbankan. Cinta seharusnya diperjuangkan. Sekarang, Zhang He berdiri di sana, di tepi danau yang dulu menjadi saksi bisu sumpah mereka. Ia menggenggam tangan istrinya, tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak pernah Li Wei lihat terpancar untuknya. Air mata Li Wei menetes, membasahi tirai putih yang menjadi pembatas antara masa lalu dan masa kini. *Sakitnya* terasa seperti ribuan jarum menusuk jantungnya. Bukan karena ia masih mencintai Zhang He, tapi karena ia telah dikhianati dengan cara yang paling menyakitkan. Ia telah kehilangan bukan hanya cintanya, tapi juga *kepercayaannya*. Li Wei ingat malam itu, malam sebelum pernikahan Zhang He. Zhang He datang menemuinya, memohon maaf dengan air mata berlinang. Ia berjanji akan menebus kesalahannya, berjanji akan selalu mencintai Li Wei. Li Wei menolaknya mentah-mentah. Cinta yang ternoda pengkhianatan tidak bisa ditebus. Kini, Li Wei tersenyum sinis. Zhang He terlihat bahagia, tapi Li Wei tahu kebahagiaan itu palsu. Pernikahan Zhang He dan putri Ma penuh dengan intrik dan kepentingan. Putri Ma adalah wanita yang licik dan kejam, seorang wanita yang tidak akan segan-segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Li Wei tahu, lambat laun, Zhang He akan merasakan apa yang telah ia rasakan. Ia akan merasakan *pedihnya* dikhianati, ia akan merasakan *perihnya* kehilangan. Ia akan merasakan… apa yang pantas ia dapatkan. Beberapa bulan kemudian, perusahaan keluarga Ma bangkrut. Nama baik Zhang He tercemar. Ia ditinggalkan oleh istrinya, dicampakkan oleh keluarganya. Ia kehilangan segalanya. Li Wei berdiri di tepi danau, menatap Zhang He yang terlihat rapuh dan putus asa. Ia tidak merasakan belas kasihan, hanya sebuah kepuasan dingin yang menjalar di hatinya. *Takdir* memang kejam, tapi bukankah takdir pula yang mempertemukan mereka kembali? Bibir Li Wei menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan *seribu* makna. "Cinta dan dendam…bukankah keduanya adalah api yang membakar habis?"
You Might Also Like: 94 Kelebihan Skincare Lokal Dengan

Post a Comment