Cerpen Seru: Takdir Yang Memainkan Ulang Cerita Lama

Embun pagi di tepi Danau Xihu menari pelan, persis seperti gaun sutra Qipao yang dikenakan Bai Lian, wanita yang menyimpan rahasia di balik senyumnya yang mempesona. Di seberangnya, berdiri Li Wei, pria yang matanya memancarkan tekad membara, mencari kepingan kebenaran yang hilang, kebenaran yang selama ini ditutupi oleh kabut kebohongan yang ditenun Bai Lian.

Bai Lian, sang pewaris tunggal Perusahaan Sutra Bai, hidup dalam kemewahan yang dibangun di atas fondasi kebohongan. Warisan yang seharusnya menjadi kebanggaan, justru terasa seperti rantai yang mengikatnya pada masa lalu yang kelam. Li Wei, seorang jurnalis muda idealis, datang ke Hangzhou dengan satu tujuan: mengungkap misteri kematian orang tuanya, yang dulu bekerja untuk Perusahaan Sutra Bai. Dia mencium aroma kebusukan di balik gemerlap kain sutra.

Pertemuan mereka bagai simfoni yang memainkan nada cinta dan benci. Bai Lian, dengan kecantikannya yang memabukkan, berusaha membelokkan Li Wei dari jalannya. Ia memberinya petunjuk palsu, cerita yang dirancang untuk menenangkannya, membujuknya untuk melupakan masa lalu. Namun, Li Wei bukan pemuda yang mudah tertipu. Semakin Bai Lian berusaha menutupi, semakin kuat pula keinginannya untuk mengungkap kebenaran.

"Kebohongan itu seperti sutra yang paling indah, Li Wei," bisik Bai Lian suatu malam di bawah rembulan purnama. "Ia membalut luka, menyembunyikan noda, tapi pada akhirnya, ia akan robek dan menunjukkan semua yang berusaha disembunyikannya."

"Dan ketika itu terjadi, Bai Lian," jawab Li Wei dengan suara dingin, "tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan."

Pertarungan batin Li Wei semakin membara. Ia mencintai Bai Lian, namun cintanya berbenturan dengan keadilan yang ia perjuangkan. Setiap langkah yang mendekatkannya pada kebenaran, semakin menjauhkannya dari wanita yang dicintainya. Sementara itu, Bai Lian semakin terdesak. Masa lalu yang berusaha ia kubur bangkit kembali, mengancam merenggut segalanya.

Puncaknya tiba pada malam Festival Pertengahan Musim Gugur. Di tengah gemerlap lampion dan riuh tawa, Li Wei menemukan bukti tak terbantahkan: Bai Lian, atau lebih tepatnya, ayah Bai Lian, bertanggung jawab atas kematian orang tuanya. Kebenaran itu menghantamnya bagai badai, menghancurkan hatinya berkeping-keping.

Ia menghadapi Bai Lian di paviliun tepi danau, di bawah cahaya bulan yang redup.

"Mengapa?" tanya Li Wei, suaranya bergetar. "Mengapa kau membiarkan aku mencintaimu, sementara kau tahu kebenaran ini akan menghancurkan kita?"

Bai Lian menatapnya dengan air mata berlinang. "Aku mencoba melindungimu, Li Wei. Kebenaran ini akan menghancurkanmu."

Namun, Li Wei sudah tidak bisa mendengar. Ia telah memutuskan.

Balas Dendam yang Tenang

Li Wei tidak berteriak, tidak marah, tidak menuntut penjelasan lebih lanjut. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk Bai Lian meremang. Ia menyerahkan bukti kejahatan ayah Bai Lian kepada pihak berwajib. Perusahaan Sutra Bai hancur, nama baik Bai Lian tercemar. Warisan yang selama ini ia jaga runtuh menjadi debu.

Bai Lian kehilangan segalanya. Ia terdiam, menyaksikan Li Wei menjauh, meninggalkan dirinya seorang diri di tengah reruntuhan kebohongannya. Ia tidak menangis, tidak memohon, tidak menyalahkan. Ia hanya tersenyum, senyum yang menyimpan perpisahan abadi.

Sebelum pergi, Li Wei menoleh sekali. Matanya kosong, tanpa emosi.

"Aku memberikanmu kebenaran, Bai Lian. Sekarang, hiduplah dengannya."

Li Wei berbalik dan menghilang dalam kegelapan malam. Bai Lian berdiri terpaku, membiarkan air mata mengering di pipinya. Ia tahu, inilah akhir dari segalanya. Ini adalah balas dendam yang sempurna: bukan dengan darah dan air mata, melainkan dengan KEBENARAN yang memusnahkan.

Di atas meja, di paviliun yang sepi itu, tertinggal sehelai sutra berwarna merah darah. Siapa yang tahu, apa rahasia yang akan terungkap, jika sutra itu bisa berbicara?

You Might Also Like: Java Program To Convert Celsius To

Post a Comment