Hujan kota Jakarta malam itu terasa seperti air mata digital. Layar ponselku berkedip, notifikasi yang tak henti berdatangan. Notifikasi pekerjaan, notifikasi promo, tapi bukan notifikasi darinya. Dia, yang dulu kukenal sebagai Kaisar. Bukan kaisar dari dinasti mana pun, tentu saja. Dia adalah Adrian, CEO muda perusahaan rintisan yang sedang naik daun. Aku? Aku hanyalah Maya, asisten rendahan yang terperangkap dalam jaring pesonanya.
Dulu, setiap aroma kopi yang ia seduh di pantry kantor terasa seperti mantra. Setiap senyumnya, seperti kembang api yang meledak di dadaku. Kami bertemu di antara deadline, di sela-sela rapat yang membosankan. Cinta kami tumbuh dalam bisikan-bisikan singkat di lift, dalam emoticon hati yang dikirimkan di tengah malam. Aku menjadi selirnya. Ya, selir di era modern. Tak ada perhiasan mewah, tak ada intrik istana. Hanya ada rasa cinta yang diam-diam, yang kurasakan begitu AGUNG, hingga terasa SESAK.
Tapi aku terlupa. Aku lupa bahwa kaisar selalu punya banyak pilihan. Aku lupa bahwa cintaku mungkin hanya interlude baginya, sebuah bug dalam sistem kehidupannya yang sempurna.
Kemudian, semua berubah. Adrian menjauh. Pesan-pesannya menjadi semakin singkat, semakin jarang. Aku merasa seperti sampah dalam recycle bin memorinya. Dan puncaknya, aku dipecat. Alasannya? "Restrukturisasi perusahaan." Alasan sebenarnya? Aku tak pernah tahu.
Aku mencoba melupakannya. Mencoba mengisi kekosongan ini dengan pekerjaan baru, dengan teman-teman, dengan scroll tanpa henti di media sosial. Tapi bayangannya selalu hadir. Di setiap sudut kota, di setiap lagu cinta, di setiap aroma kopi. Aku melihatnya di mana-mana.
Suatu malam, aku bermimpi tentang Adrian. Mimpi yang aneh, mimpi yang terasa sangat nyata. Dalam mimpi itu, Adrian memelukku erat, air mata membasahi bahuku. Ia berbisik, "Aku... aku mencintaimu, Maya. Maafkan aku." Lalu, ia menghilang.
Keesokan harinya, aku membaca berita di portal daring. Adrian meninggal dunia. Serangan jantung mendadak. KESAMBAR GLEDEK hatiku!
Aku datang ke pemakamannya. Di sana, aku melihatnya. Wanita cantik, elegan, berdiri di samping peti mati Adrian. Istrinya. Aku tersenyum pahit. Jadi, selama ini aku hanyalah bayangan dalam kehidupannya.
Setelah pemakaman, pengacaranya mendekatiku. Ia menyerahkan sebuah amplop. Di dalamnya, ada sebuah flash drive. Di flash drive itu, ada video. Video Adrian.
"Maya," katanya dalam video itu, suaranya serak. "Jika kau menonton video ini, berarti aku sudah tidak ada. Aku tahu, aku telah menyakitimu. Tapi ketahuilah, Maya, aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Aku menikah karena tekanan keluarga. Aku tidak punya pilihan. Aku ingin kau tahu, bahwa semua saham perusahaanku... aku wariskan kepadamu."
Air mataku menetes. Bukan air mata bahagia. Bukan air mata cinta. Air mata kebingungan. Air mata yang tak tahu ke mana harus mengalir.
Aku menjadi pewaris perusahaan Adrian. Menjadi RATU di dunia yang dulu pernah merendahkanku. Aku bisa saja membalas dendam. Aku bisa saja menghancurkan istrinya, menghancurkan reputasinya. Tapi aku tidak melakukannya.
Aku hanya mengirimkan satu pesan terakhir ke nomornya. Pesan yang tidak akan pernah ia baca.
"Terima kasih, Adrian. Kau telah membebaskanku. Kini, aku BEBAS."
Aku menutup ponselku. Senyum tipis menghiasi bibirku. Senyum yang menyimpan sejuta rahasia. Senyum yang menyimpan kedamaian.
Dan di balik senyum itu, ada satu keputusan yang telah kubuat. Keputusan yang akan mengubah segalanya...
...seperti hujan yang tak kunjung berhenti.
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Pencerah Wajah
Post a Comment