TOP! Kau Menatapku Dan Dunia Mulai Retak Di Antara Kita

Oke, mari kita mulai! **Kau Menatapku dan Dunia Mulai Retak di Antara Kita** Hujan asam mewarnai langit Shanghai abu-abu. Di balik jendela kafe yang beruap, Lin Wei, dengan rambut dikuncir asal dan jaket denim kebesaran, mengetuk-ngetuk cangkir kopinya. *Lagi-lagi*, sinyal wifi hilang. Chat-nya dengan Kai, yang seharusnya sudah sampai lima belas menit lalu, masih menggantung dengan kata menyebalkan: "Sedang Mengetik..." Ia mendongak. Di seberang jalan, bayangan seorang pria berdiri di bawah *pohon sakura* yang… anehnya, sedang mekar di tengah musim dingin. Pria itu, dengan mantel panjang dan rambut yang disisir rapi ke belakang, menatapnya. Tatapannya *menusuk*. Saat mata mereka bertemu, lantai kafe bergetar. Bukan gempa. Lebih seperti… *retakan*. Garis-garis halus muncul di ubin porselen, merambat seperti akar pohon mati. Lin Wei mengerjap. Pria itu masih di sana. "Kai? Apakah itu…kau?" bisiknya, meskipun ia tahu itu bukan Kai. Kai lebih suka hoodie dan sneaker butut daripada mantel wol mahal. Pria itu, yang kemudian ia ketahui bernama Ren, tidak menjawab. Ia hanya menatap, seolah melihat sesuatu yang sangat jauh, sangat berharga, dan *sangat* hilang. Ren hidup di tahun 1938, Shanghai yang berkilauan dengan lampu neon dan dilanda perang. Lin Wei hidup di tahun 2048, Shanghai yang tenggelam dalam polusi dan berjuang untuk bertahan hidup. Portal waktu kecil, retakan dimensi yang muncul karena *konvergensi energi* – omong kosong yang dibacanya di forum teori konspirasi tengah malam – membawa mereka saling menemukan. Mereka berkomunikasi melalui celah itu, pertukaran pesan singkat yang terfragmentasi, gambar buram yang dikirim dari masa lalu dan masa depan. Ren bercerita tentang jazz dan harapan, Lin Wei tentang robot pengantar makanan dan keputusasaan. Pesan Ren selalu ditulis dengan tinta yang memudar, pesan Lin Wei selalu diblokir sensor pemerintah. Cinta mereka tumbuh di antara sinyal yang hilang, di sela-sela chat yang berhenti di 'sedang mengetik...', di bawah langit yang menolak pagi. Cinta yang absurd. Cinta yang terlarang. Cinta yang, entah bagaimana, terasa *benar*. Suatu malam, Ren mengiriminya sebuah foto. Sebuah foto dirinya, mengenakan jaket denim kebesaran yang sama, berdiri di depan kafe yang sama, bertahun-tahun yang lalu. "Aku melihatmu, Lin Wei," tulisnya. "Di masa lalu, di masa depan, aku selalu melihatmu." Lin Wei tertegun. Ia mencari catatan harian neneknya, yang meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya. Di dalamnya, terselip foto seorang pria dengan mantel panjang, dengan tulisan tangan bergetar: "Ren. Cintaku yang hilang." **RAHASIA** itu menghantamnya seperti gelombang pasang. Mereka bukan orang asing yang bertemu secara kebetulan. Mereka adalah gema. Reinkarnasi. Bayangan dari kehidupan yang tak pernah selesai. Cinta mereka, siklus yang terulang dan terus berulang, selamanya terjebak di antara dua waktu. Suatu hari, retakan itu melebar. Shanghai mulai runtuh, masa lalu dan masa depan bertabrakan. Ren mengulurkan tangannya dari tahun 1938, Lin Wei mengulurkan tangannya dari tahun 2048. Jari mereka bersentuhan. *Listrik* menyambar. Dunia menjadi putih. Sebelum kegelapan menelan segalanya, Lin Wei menerima pesan terakhir. Bukan dari Ren. Dari dirinya sendiri. "*Temukan aku, di mana pun kamu berada…*"
You Might Also Like: Reseller Skincare Bisnis Rumahan Kota

OlderNewest

Post a Comment