SERU! Langit Yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama

Baiklah, ini dia kisah Dracin dengan nuansa takdir, reinkarnasi, dan pembalasan yang dingin, berjudul 'Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama': **Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama** Bunga *sakura* di Danau Barat bermekaran lebih awal tahun ini. Kelopak merah mudanya menari-nari dalam angin, persis seperti yang kulihat seratus tahun lalu… saat _dia_ mengkhianatiku. Aku adalah Lin Yue, kini seorang pianis terkenal di Shanghai. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku masih merasakan sisa-sisa kehidupan sebelumnya, kehidupan seorang jenderal wanita bernama Mei Lan, yang cintanya dihancurkan oleh pengkhianatan suaminya, Kaisar Zhao. Saat jariku menyentuh tuts piano, melodi yang keluar terasa asing namun *sangat* familiar. Seperti nyanyian dari masa lalu, memanggil-manggil sebuah nama… nama yang ingin kulupakan namun tak bisa. Zhao. Suatu malam, setelah konser, aku bertemu dengannya. Dia memperkenalkan diri sebagai Zhao Feng, seorang pengusaha muda yang ambisius. Matanya… mata itu *persis* sama. Apakah mungkin…? Semakin aku mengenalnya, semakin kuat getaran masa lalu itu. Aku mendengar bisikan-bisikan di benakku, fragmen kenangan yang terbakar: janji di bawah bulan purnama, ciuman pertama di taman *Peony*, dan kemudian… pedang dingin yang menembus punggungku. "Kau familiar, Lin Yue," katanya suatu hari, senyumnya yang dulu kurindukan kini terasa mengerikan. "Seolah aku pernah mengenalmu… *lama sekali*." Aku hanya tersenyum tipis. Rahasia kami terukir di langit, disaksikan oleh bintang-bintang yang sama seratus tahun lalu. Aku tahu dia tidak ingat, belum. Tapi aku akan memastikan dia mengingatnya. Bukan dengan amarah, bukan dengan teriakan, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: _keheningan_. Aku mulai bermain piano untuknya, setiap not adalah elegi untuk cinta yang mati. Aku menceritakan kisah Mei Lan lewat musik, kisah tentang pengorbanan, kesetiaan, dan pengkhianatan yang mendalam. Matanya mulai dipenuhi kebingungan, kemudian ketakutan. Suatu malam, saat aku memainkan sonata yang diciptakan untuknya di kehidupanku yang dulu, dia tiba-tiba memegang kepalanya, berteriak kesakitan. Kenangan itu datang, menghantamnya seperti ombak tsunami. Aku melihat penyesalan, ketakutan, dan keputusasaan di matanya. "Mei Lan… *maafkan aku*!" Aku tidak menjawab. Aku hanya melanjutkan permainan, jari-jariku menari di atas tuts. _Maaf_ tidak akan mengembalikan nyawaku, tidak akan menghapus pengkhianatan itu. Yang bisa kulakukan adalah memberikan _pengampunan_, yang akan membunuhnya lebih dalam dari pedang manapun. Aku meninggalkan Zhao Feng sendirian dalam kegelapannya. Aku meninggalkannya dengan beban dosanya, terukir selamanya di jiwanya. Aku membiarkan _waktu_ menjadi hakimnya. Beberapa minggu kemudian, aku menerima surat. Zhao Feng telah meninggalkan Shanghai, meninggalkan semua kekayaannya. Dia tidak meninggalkan pesan apapun, kecuali satu lembar kertas berisi satu kata yang ditulis dengan tinta pucat: *Peony*. Aku membuang surat itu dan kembali bermain piano. Langit masih menyaksikan, dan di benakku, aku mendengar bisikan samar dari kehidupan sebelumnya… *Apakah kau akan mencintaiku lagi, di kehidupan selanjutnya?*
You Might Also Like: 63 Unraveling Meaning Behind On Your

Post a Comment